SELAMAT DATANG

FORUM TENTANG KELUARGA

Selasa, 10 Agustus 2010

Bagian Otak yang Menyebabkan Orang Takut Kehilangan Uang

img
Peneliti menemukan bagian otak bernama amygdala yang menjadi penyebab kenapa orang takut kehilangan uang. Normalnya, orang akan takut kehilangan uang dan berhati-hati saat bertindak, namun mereka yang amygdala-nya rusak tidak punya rasa takut itu.
Orang bijak mengatakan hidup adalah proses menuju kehilangan. Tapi tetap saja manusia takut dan sangat menjaga apa yang dipunyainya agar tak hilang terutama uang. Peneliti menemukan jawabannya ini semua gara-gara amygdala.

Sebuah studi membuktikan secara ilmiah mengapa ada orang yang takut kehilangan uang tapi ada juga yang tidak. Perbedaan bagian otak yang bernama amygdala adalah penyebabnya. Jika Anda masih punya rasa takut kehilangan uang, artinya bagian amygdala pada otak masih berfungsi dengan normal.
Dalam studinya, peneliti menganalisis otak seseorang yang bermain judi. Hasilnya menunjukkan, orang yang takut kehilangan uang saat bermain judi ternyata memiliki bagian amygdala yang aktif pada bagian otaknya. Amygdala adalah bagian yang berfungsi sebagai pusat pengontrol rasa takut dalam otak.
“Hasil laboratorium dan bukti di lapangan menunjukkan bahwa seseorang cenderung menghindari risiko kehilangan meski sebenarnya mungkin ia akan mendapat sesuatu yang lebih besar jika kehilangan,” kata Dr Benedetto De Martino dari the California Institute of Technology, Pasadana seperti seperti dilansir dari ABCNet, Selasa (9/2/2010).
Sebagai contoh, orang akan menghindari judi karena takut kehilangan uang US$ 10 padahal mereka bisa saja mendapatkan untung US$ 15. Tindakan ini menurut Dr Martino disebut dengan ‘loss aversion‘ atau takut kehilangan.
Untuk mengetahui fungsi amygdala pada otak manusia, peneliti menguji dua orang perempuan dengan kondisi genetik langka yang disebut dengan penyakit Urbach-Wiethe. Penyakit itu menyebabkan kerusakan bagian amygdala dan membuat seseorang tidak bisa mengontrol rasa takut atau emosi lainnya.
Peneliti membandingkan kedua perempuan itu dengan 12 partisipan lainnya yang tidak memiliki penyakit tersebut. Studi ini hanya menggunakan sedikit partisipan karena secara etika, tidak etis rasanya melukai dan membongkar isi otak manusia untuk mengetahui apa yang terjadi di dalamnya.
Para partisipan diminta untuk melakukan judi dimana akan ada dua kemungkinan yang dihasilkan. Kemungkinan pertama adalah partisipan akan memenangkan US$ 20 atau kehilangan US$ 5. Kemungkinan kedua adalah partisipan akan memenangkan atau kehilangan US$ 20.
Hasilnya menunjukkan kedua perempuan yang punya penyakit Urbach-Wiethe ternyata memilih pilihan kedua, yaitu mengambil risiko kehilangan yang lebih besar. Hal ini membuktikan bahwa bagian amygdala pada otaknya memang tidak berfungsi sehingga ia cenderung tidak takut kehilangan uang.
“Seseorang dengan amygdala normal harusnya bisa lebih berhati-hati dalam bertindak dan punya rasa takut akan kehilangan,” kata Ralph Adolphs.
Studi yang dilaporkan dalam the Proceedings of the National Academy of Science ini membantu menjelaskan mengapa ada sebagian orang yang berani mengambil risiko dan ada yang tidak. Jika seseorang tidak punya rasa takut, mungkin bagian amygdala dalam otaknya mengalami kerusakan yang mungkin disebabkan oleh faktor genetik atau DNA.(fah/ir)

Minggu, 08 Agustus 2010

Kepribadian calon pasangan?

http://www.ilmupsikologi.com/?p=428
Saat mencari pasangan, kita cenderung hanya melihat segala sesuatu yang tampak dari luar. Soal penampilan, misalnya, kita ingin pria berkulit putih, jangkung, atau berambut cepak. Bila membahas soal sifat pun, hanyalah yang tampak di permukaan. Misalnya, ramah, senang bercanda, atau perhatian.
Ketika hubungan telah terbina, kita akan menyadari bahwa kepribadian seseorang akan lebih kompleks daripada yang kita bayangkan. Apa yang tampak dari luar tidak menjamin apakah hubungan Anda akan langgeng atau tidak. Akan lebih baik jika Anda mengenali lebih dulu tipe kepribadian Anda dan pasangan.

Helen Fisher, seorang anthropolog yang juga penulis buku Why We Love: the Nature and Chemistry of Romantic Love, mengadakan riset mengenai mengapa kita jatuh cinta dengan orang tertentu, dan bukannya yang lain. Dari penelitian tersebut, Fisher menyimpulkan bahwa pada dasarnya terdapat empat tipe kepribadian: Explorer, Builder, Negotiator, dan Director. Empat gaya kepribadian ini berhubungan dengan substansi kimia dopamin, serotonin, testosteron, serta estrogen dan oxytocin.
Menurut Fisher, “Yang terpenting bukan hanya memahami siapa diri kita, tetapi juga menggunakan siapa diri kita tersebut. Keempat tipe kepribadian ini melakukan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari jika mereka lebih mengenali tipe apakah diri mereka.”
Inilah empat kepribadian menurut Fisher:
1. The Explorer
Tipe pengeksplorasi mengekspresikan aktivitas mereka dalam sistem dopamine. Mereka cenderung mengambil risiko, selalu ingin tahu, kreatif, spontan, energik, antusias, dan optimistik.
Orang dengan tipe Explorer cenderung tertarik dengan orang-orang yang seperti dirinya. Mereka menginginkan seseorang yang energik dan antusias, seorang petualang yang kreatif dan selalu ingin tahu.
Tipe Explorer juga sangat manis dan murah hati. Kebaikan pria Explorer kerap disalahartikan wanita yang menerima kebaikannya, sehingga akhirnya mereka terluka setelah mengetahui bahwa pria Explorer tersebut ternyata sudah menjalin hubungan dengan wanita lain.
2. The Builder
Tipe Builder mengekspresikan diri mereka dengan serotonin. Orang-orang dengan tipe ini tenang, senang bersosialisasi, populer, hati-hati, namun tidak penakut. Mereka sangat baik dalam membangun jaringan, senang bersosialisasi, dan menyukai orang-orang yang setipe dengan mereka.  Anda tipe wanita (atau pria) tradisional, konvensional, dimana keluarga sangat penting bagi Anda, dan sering kali relijius.
Tipe Builder cenderung mengikuti aturan dan jadwal, namun sebaiknya Anda lebih berani mengambil risiko untuk urusan kencan. Mereka senang bertemu dengan banyak orang, sehingga Si Dia bisa saja mengajak Anda menemui teman-temannya meskipun sebenarnya Anda hanya ingin menghabiskan waktu berdua.
3. The Director
Tipe The Director mengekpresikan diri dengan testosteron. Pria atau wanita dengan tipe ini senang memimpin, cenderung bertindak sebagai pengambil keputusan, senang berpikir, dan mampu memahami musik dengan baik karena musik sangat struktural. Mereka senang berkompetisi, dan ambisius.
Tipe Director biasanya akan mencari tipe Negotiator, begitu pula sebaliknya. Fisher mengambil contoh Bill dan Hillary Clinton. Hillary adalah tipe pemimpin, pengambil keputusan, dan berpendirian kuat. Ia bukan tipe yang dapat mengambil hati orang seperti suaminya. Hillary terpikat dengan pria yang memiliki sopan-santun, senang berbicara, dan peduli pada orang lain.
Yang perlu diperhatikan, tipe Director sering menganggap bahwa kencan sangat merepotkan. Mereka maunya yang langsung-langsung saja. Mereka sering terlalu cepat membuat keputusan, sehingga jika menyadari ada sesuatu yang tidak beres di tengah-tengah kencan, mereka menjadi sangat kasar. Pria atau wanita dengan tipe ini harus belajar lebih rileks.
4. The Negotiator
Tipe Negotiator, baik pria maupun wanita, dapat sangat ekspresif dalam estrogen. Mereka orang-orang yang sangat fleksibel, imajinatif, dan intuitif. Tipe Negotiator juga  mudah setuju dengan pendapat orang lain, baik, sangat peduli dengan perasaan orang lain, sehingga orang lain sering memanfaatkan mereka.
Bila Anda seorang Negotiator, Anda harus lebih yakin dengan pendapat Anda sendiri. Sebab Negotiator umumnya cenderung kompromis dalam segala sesuatu, meskipun pada dasarnya mereka kurang setuju dengan sesuatu hal. Karena itu jika Anda seorang Negotiator, Anda harus cepat sadar dan tidak berpikir berlebihan.
Adakah tipe kepribadian yang tidak cocok untuk tipe kepribadian yang lain?
Dengan mengenali berbagai jenis kepribadian ini, sebenarnya Anda bisa membantu diri sendiri dalam menemukan pria dengan kepribadian yang sesuai untuk Anda. Sebagai contoh, tipe Explorer sangat karismatik dan memikat, sehingga kita cenderung cepat jatuh cinta dengan tipe ini. Lebih baik lakukan pendekatan dengan perlahan, jangan langsung mengambil keputusan untuk melakukan hal-hal yang akan membawa Anda ke masalah.
Meskipun demikian, menurut Fisher sebenarnya tidak ada kombinasi kepribadian yang buruk, selama kita terus berpikir bahwa Si Dia adalah yang terbaik. Anda bisa membina hubungan dengan tipe mana saja, meskipun beberapa pertemuan dua jenis kepribadian dapat menghadapi masalah-masalah yang spesifik.
Jika Anda dan pasangan sama-sama tipe Explorer, maka biasanya Anda tidak akan bertengkar mengenai siapa yang harus mencuci atau menyetrika, karena Anda berdua orang-orang yang fleksibel. Pasangan yang sama-sama tipe Builder akan menciptakan suatu perkawinan yang langgeng, namun mereka akan selalu meributkan bagaimana merapikan kamar tidur yang benar, karena salah satu merasa punya cara yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu.
“Dua orang Explorer tidak akan mengalami hal seperti itu,” ujar Fisher. “Mereka akan mengatakan kepada yang lain, ‘Makan saja dengan cara yang kamu suka.’”
Kombinasi yang sedikit kurang baik adalah dua tipe Director. Mereka sama-sama workaholic sehingga akan kekurangan waktu untuk bersama-sama, dan tak satu pun dari mereka yang punya kemampuan untuk menyenangkan yang lain. Namun, sekali lagi, selama mereka berpikir bahwa pasangannya adalah yang terbaik, mereka pun akan mampu membina hubungan yang awet.

Belum Nikah Sampai 40 Tahun Pertanda Punya Mental Sehat


Telat nikah hingga jadi “perawan tua” boleh ajdi bukan pertanda kegagalan emosional. Sebab banyak faktor kenapa orang menjadi perwan tua. Ada sebagian orang awam berpendapat bahwa “perawan tua” memiliki masalah dengan emosi, suka pilih-pilih, kurang pergaulan, wanita karir, kena kutukan karena suka menolak, terlalu high standart dan macam-macam. Tentu pendapat itu tidak memiliki dasar yang argumentatif. Masih banyak sebab kenapa seseorang belum juga menikah. Terutama untuk wanita, faktanya komposisi jumlah usia nikah juga mulai timpang, yaitu 1 laki-laki berbbanding 3 perempuan, tentu ini juga bukan alasan untuk poligami apalagi tidak mungkin orang menikah dalam waktu serentak. Oleh karena itu kita perlu melihat sisi lain dari fenomena ini “menunda perkawinan”, atau bisa jadi  menunda kebahagiaan?
detik.com melansir hasil penelitian di Villanova, AS, Menurut hasilnya seseorang yang masih melajang hingga umur 40-an tahun selalu mendapat pertanyaan kenapa tidak menikah. Bukannya tak mau menikah, tapi mereka sudah merasa nyaman dengan kesendiriannya. Meski studi sudah membuktikan bahwa menikah baik untuk kesehatan, tapi ada hal lain yang ternyata membuat seseorang betah menjomblo.

Studi terkini di bidang psikologi menunjukkan bahwa orang-orang yang belum menikah hingga umur 40-an tahun ke atas punya kesehatan emosional yang lebih baik dibanding mereka yang sudah menikah.
Studi dilakukan dengan mengambil data 1.500 partisipan lebih berumur 40 hingga 74 tahun dari the National Survey of Midlife Development, Amerika Serikat. Sebanyak 1.486 partisipan sudah menikah sedangkan 105 lainnya belum menikah.
“Hal menarik yang kami temukan disini adalah, mereka yang belum menikah punya sisi psikologis dan kesehatan emosional yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi tantangan hidup. Mereka merasa punya kekuatan lebih, tahu caranya mengurus diri sendiri dan bisa mengontrol hidupnya lebih baik dengan status lajang mereka daripada partisipan lain yang seumuran dan sudah menikah,” ujar Jamila Bookwala, profesor psikologi dari Lafayette College, Easton seperti dilansir Healthday, Minggu (6/12/2009).
Peneliti mengukur kekuatan psikologis dan kesehatan emosional partisipan yang belum menikah melalui tiga kriteria yaitu keahlian personal, tingkat fokus dan kecukupan materi. Mereka yang belum menikah biasanya memiliki tingkat pendidikan dan karir yang cukup matang. Keahlian yang mereka punya dirasa cukup untuk mengatasi segala bentuk persoalan hidup, termasuk depresi.
Fokus pada diri sendiri pun menjadi faktor penentu kesehatan mentalnya, dimana fokus mereka yang belum menikah hanya tertuju pada dirinya saja, sehingga beban mentalnya menjadi lebih sedikit. Sedangkan kecukupan materi yang mereka punya bisa mencukupi segala kebutuhannya dan tidak merasa tergantung atau harus menanggung kebutuhan orang lain karena belum memiliki keluarga.
“Studi ini mematahkan mitos yang mengatakan bahwa ada masalah psikologis pada individu yang belum menikah serta mitos yang mengatakan bahwa menikah adalah langkah terbaik yang harus ditempuh setiap orang dalam hidupnya,” ujar Patrick Markey, profesor psikologi dari Villanova University, Villanova.
Meski menikah disebut-sebut sebagai bagian terbaik dalam hidup, tapi ternyata belum tentu bagi sebagian orang. “Mereka justru lebih bahagia karena tidak menikah,” tambah Markey.
Namun studi lebih lanjut dengan jumlah partisipan yang lebih banyak perlu dilakukan lagi mengingat jumlah partisipan dalam studi ini cukup sedikit, yakni sekitar 100 orang lebih.

Seks Bebas di Usia Dini atau Nikah Dini?

Gejala pergaulan bebas yang sudah menjadi model kehidupan masyarakat belakangan ini, telah memposisikan Indonesia berada dalam cengkraman kejahatan seks bebas yang merupakan ikutan dari politik global.
Pernyataan ini disampaikan dr Rini dari Forum Muslimah untuk Indonesia Sehat dalam diskusi interaktif Kesehatan Reproduksi Remaja di kampus Universitas Islam Bandung (Unisba). Menurutnya, kebijakan pemerintah dalam pencegahan perkawinan dini atau usia muda yang masih diberlakukan hingga sekarang, menjadi salah satu faktor pemicu masuknya kejahatan seks bebas.

“Pemerintah harusnya melakukan langkah-langkah pencegahan bagi terjadinya model dan gaya hidup seks bebas, tapi yang dicegah justru perkawinan dini,” kata dia.
Menurut Rini,  seharusnya yang dicegah bukan pernikahanan dini, tetapi perilaku seks bebas yang jauh membawa dampak buruk termasuk penyakit kelamin dan penyakit moral.
Pandangan bahwa nikah dini sebelum usia 18 tahun akan terkena risiko “cancer cervix” hanyalah sebuah hipotesa, karena faktanya Ca-cervix adalah akibat terserang kuman HPV secara persisten dan akibat suka berganti-ganti pasangan.
Terkait dengan amandemen UU no.23/1992 Tentang Kesehatan yang sepintas melegalkan aborsi, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini menolak tegas.
Tidak ada aborsi yang aman, tidak dilegalkan saja kasus aborsi sudah 3 juta per tahun.
Aborsi dapat menyebabkan komplikasi urologi, kemandulan, kematian, dan konflik kejiwaan. Aborsi bukan hanya masalah medis, tetapi juga merupakan masalah sosial.
Dokter muda ini pun menyayangkan penyuluh kesehatan yang kerap kali menggunakan alat peraga. “Penjelasan organ-organ reproduksi, organ genital, baik dari segi fisiologis maupun anatomis akan membentuk persepsi seksual yang akan menggelorakan nafsu seksual yang akhirnya mendorong seks bebas,” katanya.
Menurut Elma Triyulianti, Sie Remaja dan PHR Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jabar, angka penderita dan penularan HIV di Jawa Barat menjadi nomor satu di Indonesia.
Selama ini BKKBN berusaha memberikan informasi konseling dan kesehatan reproduksi remaja sehubungan dengan alat reproduksinya. BKKBN memprioritaskan penyuluhannya kepada masyarakat. Pendewasaan usia perkawinan melalui program kesehatan reproduksi remaja.